News & Event
LIF Aceh Programme
Buku Ajar Leuser Disebarluaskan di Aceh Tenggara dan Gayo Lues
Buku Ajar Leuser Disebarluaskan di Aceh Tenggara dan Gayo Lues
Buku Ajar Leuser Disebarluaskan di Aceh Tenggara dan Gayo Lues
Oleh : Chik Rini
Yayasan Leuser Internasional (YLI) menyebarluaskan Buku Ajar Leuser Tingkat SMP hasil revisi kepada 40 guru yang berasal dari Aceh Tenggara dan Gayo Lues. Buku Ajar Leuser telah diluncurkan bulan lalu dan telah ditetapkan sebagai muatan lokal di Aceh seperti yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi NAD.
Pelatihan penggunaan Buku Ajar Leuser dibuka Kamis, 19 November 2009 di Hotel Brudihe Kutacane oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tenggara H. Ali Basrah, Spd. MM bersama Kepala Perwakilan YLI di Kutacane M. Idham. Pelatihan ini akan berlangsung dari tanggal 15-21 November 2009 diikuti tenaga pengajar dari sejumlah SMP, MTsn, anggota mahasiswa pecinta alam dan tenaga pengawas pendidikan menengah. Para pelatih berasal dari master trainer 2 orang dari Aceh Tenggara, 2 orang dari Gayo Lues, 1 orang dari Lembaga Pengawas Mutu Pendidikan (LPMP) NAD, dan 2 dari Dinas Pendidikan NAD.
Dalam sambutannya Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tenggara menyambut baik keberadaan Buku Ajar Leuser sebagai muatan lokal di Aceh Tenggara. Buku ini mendukung upaya pemerintah setempat untuk mengembangkan pendidikan lingkungan hidup di daerah itu. Dengan adanya Buku Ajar Leuser memberikan dukungan bagi upaya pemerintah untuk melestarikan Kawasan Ekosistem Leuser. Apalagi Aceh Tenggara sedang menuju ke arah kabupaten konservasi. Penyadaran lingkungan melalui sekolah menjadi sangat efektif untuk menumbuhkan generasi masa depan yang peduli menyelamatkan Leuser.
Kepala Dinas Pendidikan mengusulkan agar YLI menyelenggarakan Olimpiade Leuser untuk sekolah-sekolah yang ada di daerah ini untuk meningkatkan minat siswa kepada pelestarian alam.
Dengan adanya pelatihan ini, maka sudah saatnya Buku Ajar Leuser diimplementasikan penggunaannya dalam kurikulum lokal di wilayah mereka. Kadis menilai, isi Buku Ajar Leuser sudah sangat bagus karena melalui revisi yang dilakukan sejak 2007.
Melalui Proyek Hutan dan Lingkungan Aceh (AFEP), selama 2007-2008 YLI bekerjasama dengan LPMP telah melaksanakan lokakarya revisi Buku Ajar Leuser yang melibatkan 237 guru SMP. Tahun 2009, YLI mulai melakukan sosialisasi penggunaan Buku Ajar Leuser langsung kepada guru-guru di 13 kabupaten di NAD yang wilayahnya masuk dalam KEL. YLI akan mendistribusikan 7 ribu Buku Ajar Leuser untuk seluruh SMP di wilayah ini. Oktober lalu YLI telah melatih 32 guru pelatih (master teacher trainer) yang mewakili kabupaten yang wilayahnya masuk dalam KEL seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Barat Daya, dan Nagan Raya. Selanjutnya mereka akan menjadi guru fasilitator di kabupaten masing-masing untuk melatih 500 guru lainnya.
YLI juga mendorong para guru yang dilatih untuk membantu para siswa di sekolah masing-masing membentuk kelompok pecinta alam (ecoclub) guna meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler yang berhubungan dengan lingkungan hidup.
Buku Ajar Leuser berisi pemahaman bagi para siswa tentang pentingya KEL bagi masa depan Aceh dan dunia. Seperti diketahui KEL adalah salah satu komplek hutan hujan tropis terluas yang ada di Indonesia dengan luas 2,6 juta hektar. Leuser kaya dengan keanekaragaman hayati dan merupakan salah satu titik penting keanekaragaman hayati dunia. Kawasan ini dihuni oleh Orangutan, Gajah, Harimau Sumatera dan Badak Sumatera. Di kawasan ini juga dijumpai lebih dari 350 spesies burung, 80 spesies mamalia, dan berbagai bentuk biotik lainnya. Banyak sungai bersumber dari kawasan ekosistem ini dan menyediakan air bagi 90% masyarakat yang bertempat tinggal di dalam dan di sekitar ekosistem. Kehidupan sekitar 4 juta orang tergantung secara langsung maupun tidak langsung pada kawasan ini. Karena kaya dengan keanekaragaman hayati, luasnya yang besar dan tidak terganggu, dan manfaatnya bagi masyarakat lokal, Taman Nasional Gunung Leuser telah diakui sebagai kawasan warisan dunia oleh UNESCO. Kawasan hutan Aceh memiliki kepentingan global. Kawasan hutan ini merupakan salah satu bentang lahan terbesar yang termasuk dalam kategori prioritas satu untuk konservasi harimau.
Banyak lembaga-lembaga lokal dan internasional telah melakukan berbagai studi untuk memahami hutan Aceh. Tidak ada banyak informasi yang tersedia bagi masyarakat setempat maupun komunitas siswa untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang kekayaan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. Jika ada informasi yang memadai untuk masyarakat setempat dan para siswa, maka mereka akan lebih paham tentang hutan Aceh. Masyarakat yang dibekali informasi akan membantu kita melindungi hutan dan warisan kita dengan lebih baik.


